Moral dan Televisi

Ilustrasi TV (http://techcrunch.com/)
Isu terhangat di Indonesia terdiri dari dua jenis yaitu isu besar dan kecil. Memang bila pada tahun 2015 ini Indonesia terfokus pada beberapa kegiatan besar yang menjadi trend seperti MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) 2015, KAA (Konferensi Asia Afrika) 2015, dan banyak yang lainnya. Namun ibarat pepatah “Retak menanti belah” , ada isu kecil yang perlu diperhatikan negara supaya tidak berubah menjadi kesulitan besar bagi negara ini. Ini merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia bukan hanya pemerintah saja maupun rakyatnya saja, melainkan keseluruhan.
Dari beragam masalah yang diberitakan oleh situs-situs berita maupun berita redaksi di televisi, ada salah satu berita mengenai meninggalnya seorang anak usia sekolah dasar karena perkelahian. Ironisnya perkelahian tersebut dilakukan karena terinspirasi dari acara serial TV atau sinetron yang belum lama ini mulai tayang di salah satu stasiun TV Swasta di Indonesia. Peristiwa ini mengingatkan kita dengan kasus yang serupa yaitu perkelahian anak usia sekolah dasar berujung kematian yang disebabkan karena terinspirasi oleh acara gulat gaya bebas yang sempat booming hampir satu dekade lalu. Lalu mengapa hal ini dapat terjadi ?
Stasiun televisi adalah media informasi yang sangat populer di Indonesia. Kebanyakan warga Indonesia menghabiskan rata-rata 4,5 jam dalam sehari untuk menonton televisi. Hal itu dinilai sangat besar prosentasenya karena di negara Amerika Serikat saja orang-orang hanya menghabiskan waktu rata-rata dua jam saja untuk menonton acara televisi. Namun demikian, seiring dengan lamanya durasi masyarakat Indonesia menonton televisi, hal itu tidak diimbangi dengan kualitas acara yang diberikan. Seringkali kita menemukan acara yang populer namun isi dari acara tersebut tidak sebanding dengan popularitasnya alias isinya tidak berbobot.
Fungsi televisi bagi masyarakat adalah sebagai sarana infomasi, edukasi dan rekreasi. Di Indonesia sendiri, stasiun televisi lebih banyak memberikan fungsi rekreasi daripada fungsi yang lainnya. Saking banyaknya acara yang berfungsi rekreasi daripada acara yang informatif dan edukatif, dikhawatirkan dapat berpengaruh buruk terhadap kondisi kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia baik anak-anak maupun dewasa. Terlebih bagi anak-anak, resikonya berlipat ganda karena tahap anak-anak merupakan tahap meniru apa saja yang dilihatnya. Bisa dibayangkan jika anak-anak di Indonesia menonton acara televisi yang salah dan menirunya. Akan terjadi banyak ironi yang semakin memperburuk keadaan di Bumi Pertiwi ini.
Berkaitan dengan sensor acara televisi, lembaga LSI dan KPI sudah berbenah dalam proses sensornya. Namun sensor yang dilakukan tersebut saya nilai tidak tepat sasaran. Contoh kasusnya jika kita menonton acara film di malam hari banyak adegan-adegan kekerasan maupun baku hantam yang dipotong. Selain itu adegan yang mempertontonkan rokok dan (maaf) belahan dada wanita di blur. Hal itu terkesan berlebihan dan berdampak lain seperti kehilangan esensi film, penggambaran karakter tokoh dan sebagainya. Perlu diketahui fungsi rokok di film-film berkelas holywood bukan hanya untuk gaya-gayaan saja seperti alasan anak muda di Indonesia untuk merokok, melainkan sebagai penggambaran karakter tokoh supaya pesan yang disampaikan si penulis cerita dapat lebih tepat sampai ke penonton. Apalagi adegan baku hantam dan pertumpahan darah itu merupakan penanda bahwa genre film adalah film action. Kesan menonton film action tanpa adegan baku hantam dan pertumpahan darah adalah bagai makan sayur bayam tanpa sayur bayam itu sendiri. Bagaikan minum sirup tanpa sirup itu sendiri.
Beralih ke acara yang berasal dari produksi dalam negeri, disini malah pengawasannya tidak terlalu ketat. Malah hal ini berdampak sangat buruk. Acara produksi dalam negeri banyak dipilih sebagian besar masyarakat Indonesia karena sesuai dengan budaya dan pola tingkah laku masyarakat yang menonton. Disini saya rangkum beberapa kekurangan yang dimiliki oleh acara TV yang dapat berdampak besar bagi siapapun yang menontonnya.
  1. Budaya Kemewahan yang Tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia.
  2. Banyak konsep dan Ide cerita yang kemasannya tidak realistis (kebanyakan didapat pada acara TV Movie).
  3. Kemasan realistis, tapi ide cerita yang tidak berujung (terdapat pada sinetron-sinetron)
  4. Tokoh utama dalam acara sinetron / TV Movie yang tidak dapat menjadi contoh bagi penonton.

Hal itu merupakan beberapa hal yang memberi dampak besar bagi para penonton. Budaya kemewahan tentu saja tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia karena masih terdapat kemiskinan. Kemasan cerita tidak realistis misalnya pada acara TV Movie sering diperlihatkan wanita berusia remaja beranjak dewasa yang berprofesi sebagai penjual gorengan, penarik becak, dan sebagainya sehingga kesan tidak realistis terlihat jelas. Ide cerita yang tidak berujung ditemukan di acara sinetron yang memiliki ratusan bahkan ribuan episode. Hingga tokoh utama yang selalu pasrah kepada keadaan namun pada akhirnya tetap menang di akhir cerita. Bahkan yang sering diperlihatkan pada cerita adalah perjuangan ‘si jahat’ menyiksa ‘si baik’ daripada perjuangan tokoh utama melawan kesulitan yang dihadapinya. Lantas apa penyebab kekurangan tersebut dibiarkan malah semakin banyak bermunculan ?
Jawabannya adalah kecenderungan media televisi Indonesia berorientasi pada profit daripada kualitas acara yang dipersembahkan bagi penonton. Keuntungan didapat dari iklan yang dipasang pada setiap jeda-jeda acara televisi. Iklan datang dari seberapa banyak rating yang diperoleh oleh acara tersebut. Bicara soal rating, hal ini membawa masyarakat sebagai penonton sebagai pelaku dari lingkaran setan buruknya kualitas acara TV dalam negeri. Dinilai kebanyakan acara TV yang tidak mempunyai fungsi edukatif dan informatif malah banyak ditonton oleh masyarakat Indonesia dan ini berdampak pada meningkatnya rating acara tersbut menjamurnya acara-acara TV yang kurang bermanfaat. Memang salah satu tujuan televisi adalah sebagai sarana rekreasi. Tapi dapatkah masyarakat Indonesia memilih hiburan mana yang tidak hanya sekedar hiburan? Selain itu apakah penyedia acara televisi tidak dapat membuat acara hiburan namun tidak kehilangan sisi informatif dan edukatif yang merupakan tujuan awal dari televisi itu sendiri ?
Kesimpulan
            Ada tiga fokus utama dalam pembahasan ini yaitu Media, Lembaga Sensor dan Masyarakat. Sebaiknya media segera beralih dari tujuan profit oriented  menjadi tujuan yang mendidik dan informatif bagi para pemirsa agar kita bisa mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain. Untuk lembaga sensor dalam hal ini LSI dan KPI mengubah orientasi sensor dari kemasan ke isi / bobot dari acara tersebut karena isi acara lebih berdampak daripada kemasan acara. Sedangkan masyarakat sebaiknya pandai memilih acara yang baik dan tidak terlena oleh sandiwara-sandiwara yang hanya sandiwara saja.

Comments

Popular Posts