Gunung Prau, Wonosobo. Sebuah Pesan dari Alam

Kabut yang dingin semakin memeluk tubuh kami yang baru beberapa saat sampai di puncak Gunung Prau, Wonosobo. Seketika banyak pesan yang hendak disampaikan Tuhan melalui puncak yang megah beserta kemewahan alam yang disajikannya. Tidak berapa lama setelah puncak Prahu kami jelajahi, sebelum kondisi dingin tidak dapat kami kendalikan lagi, kamipun turun lebih cepat dari jadwal yang sudah direncanakan.

Pemandangan Gunung Sindoro dan Sumbing dari Bukit Teletubbies
Sumber : train835.rssing.com
Melepas penat sehabis UTS, kami memilih gunung Prau untuk menjadi tujuan wisata. Salah satu primadona dari kota Wonosobo ini memiliki keindahan alam yang luar biasa dan menarik untuk dikunjungi. Ditambah lagi dengan keramahan dan kehangatan masyarakat Dieng menyambut setiap pendaki yang datang semakin menjadi alasan para pendaki untuk kembali berkunjung ke Wonosobo. Butuh tiga hingga empat jam perjalanan dari ibu kota Jawa Tengah untuk mencapai base camp pendakian gunung Prau. Sesampainya di Dieng, segera kami disambut oleh kehangatan penduduk Dieng. 

Pukul dua dini hari perjalanan menuju puncak dimulai. Hawa sejuk dingin menjadi kawan kami saat mendaki. Berbekal peralatan dan doa, medan pendakian dari base camp Patakbanteng yang dikenal terjal mulai kami susuri perlahan. Formasi berjalan dengan jarak antar orang yang rapat kami pilih karena puncak Prahu menjadi puncak pertama bagi kebanyakan anggota tim. Gunung Prau memiliki ketinggian 2565 MDPL dengan klasifikasi gunung kecil bukan api. Banyak pendaki yang bergegas berangkat dini hari untuk mengejar Golden Sunrise milik Puncak Prau yang di-klaim sebagai Golden Sunrise yang terbaik se-Asia Tenggara.

Perjalanan dari base camp  Patakbanteng menuju puncak melewati tiga pos. Pos pertama yang harus dilalui bernama Sikut Dewo. Diadakan pengecekan bukti retribusi demi keamanan dan kenyamanan seluruh pendaki. Jalan yang sebelumnya menanjak dan berbatu rapi berubah menjadi jalan setapak agak terjal dengan pemandangan kiri dan kanan perkebunan kentang. Atmosfer pendakian gunung semakin terasa ketika melalui rute setelah pos pertama. Tentu saja udara dingin dan gerimis kecil tetap menjadi kawan kami sepanjang perjalanan.

Hampir satu jam setelah kami melewati pos Sikut Dewo, tibalah kami di pos Canggal Walangan yang merupakan pos kedua yang digunakan banyak pendaki untuk beristirahat karena ada tempat landai yang cukup luas. Kondisi jalan yang kami lalui berbentuk seperti anak tangga ang kadang landai namun seringkali curam. Keindahan alam sedikit terganggu dengan hadirnya sampah walau kebanyakan sampah yang ada berukuran kecil, Seperti dosa, kecil ataupun besar tetaplah dosa, sampah pun juga demikian. Dalam perjalanan hingga pos ketiga yang bernama Canggal Walangan, pemandangan anak tangga dan perkebunan masih khas disekitar kami. Walau jarak pandang hanya beberapa langkah kedepan karena kabut, namun masih saja terasa harmoni alam yang mengalun disepanjang perjalanan. Alam yang dijaga agar tetap asri oleh siapa saja pecinta alam yang lewat, berbeda jauh dengan kebanyakan tanah yang menjadi korban rakusnya penguasa yang hanya berpacu mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.

Dari kejauhan mulai terlihat kemah-kemah berdiri. Semakin dekat semakin banyak terlihat, dari situ kami mulai sadar bahwa perjalanan kami akan segera mencapai puncaknya. "Sunrise Camp" itulah nama tempat bertopografi lebih landai dari rute yang telah kami lalui, yang menjadi pilihan para pendaki lain untuk tidur maupun beristirahat sembari menunggu matahari terbit. Ada banyak sekali kemah yang dibangun disana. Libur akhir pekan yang panjang dan pemandangan indah yang ditawarkan oleh gunung Prau menjadi daya tarik para pendaki untuk mengunjungi Anugerah Tuhan Semesta Alam di Wonosobo ini.

Keindahan daerah wisata Dieng dari POS I, Sikut Dewo
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Beberapa bukit dan lembah dilalui, sampailah kami di ketinggian 2565 Meter Diatas Permukaan Laut. Inilah puncak Prau, keindahan alam yang megah tersembunyi dibalik kehangatan dan ramah tamah Kabupaten Wonosobo. Inilah ujung rute pendakian yang mengubah lelah yang kami rasakan menjadi kebahagiaan. Puncak yang berkabut membuat kami tidak dapat menikmati Golden Sunrise terbaik se-Asia Tenggara. Namun tak sedikitpun mengurangi rasa syukur kami karena dapat melihat besarnya kuasa alam. Besarnya Kuasa Tuhan sang Pencipta Alam Semesta ini.

Gunung Prau mewakili alam semesta memberi pesan sangat berharga pada setiap penikmat keindahan alam yang datang kepadanya. Tingginya gunung dan alam yang megah memberikan pesan kepada kita (manusia). Betapa kecilnya kita (manusia) jika dibandingkan dengan gunung. Betapa kecilnya kita (manusia) jika dibandingkan dengan alam. Betapa kecilnya kita (manusia), jika dibandingkan dengan Tuhan, Sang Pencipta Alam Semesta. Jadi pantaskah jika kita memiliki sifat sombong ?


Postingan artikel ini diikutsertakan dalam ‪#‎NJFWonosobo2015‬


#NJFWonosobo2015

Comments

  1. Great post! Jadi pingin liat "Golden Sunrise" Prau secara langsung..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts