Titik Hitam

Seorang guru bijak bertanya kepada salah satu muridnya yang paling pintar. "Nak, aku ingin bertanya kepadamu. Apa yang kamu lihat?" tanya Sang Guru seraya menunjukkan satu lembar kertas kosong kepada muridnya tersebut. 

Murid itupun menjawab: "Aku melihat satu lembar kertas putih, pak."

Lalu sang guru menambahkan sebuah titik pada kertas tersebut, dan bertanya kepada muridnya tersebut. "Sekarang, apa yang kamu lihat, nak?"Tanya guru itu lagi.

"Titik hitam, pak" Jawab anak tersebut.

"Benarkah? Tidak ada jawaban lain?" Tanya guru itu kembali.

"Benar, pak. Saya yakin itu adalah titik hitam, pak" Jawab anak tersebut bersikeras.

"Baiklah, nak. Pelajaran baru untuk hari ini adalah agar kita memperluas pandangan kita. Yang kulihat bukan hanya titik hitam, melainkan kertas putih dengan satu noda kecil didalamnya. Sedangkan yang kamu lihat hanya titik hitamnya"


Kawan, noda hitam di kertas itu saya ibaratkan sebagai kesalahan. Baik yang orang lain lakukan kepada kita, atau yang kita lakukan sendiri. Seringkali kita sangat peka terhadap sekecil apapun kesalahan orang lain. Padahal dibalik itu, banyak sekali hal yang baik yang dimiliki orang tersebut. Ketika melihat satu kesalahan yang orang lain lakukan kepada kita, seringkali pula kita tidak bisa menahan emosi sehingga amarah meluap dan timbul perpecahan.

Sederhananya pada posting saya kali ini saya ingin menegaskan bahwa pertikaian disebabkan karena kedua belah pihak hanya melihat bagian hitam satu sama lain tanpa menghiraukan bagian putih, yang mungkin saja lebih banyak bagiannya daripada bagian hitam yang mungkin saja hanya setitik.

"Gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan sangat kelihatan" Peribahasa nenek moyang tersebut sangat mewakili atas apa yang saya posting kali ini. Pesan bagi kita adalah, ayo kita pandai-pandai mengubah dan memperluas sudut pandang kita masing-masing agar pertentangan yang disebabkan oleh hal kecil tidak sering terjadi lagi.

Comments

Post a Comment

Popular Posts