Upacara Bendera: Seremonial Tanpa Nyawa

Upacara Bendera. Sumber: id.wikipedia.org
Bendera merupakan identitas suatu bangsa. Selain budaya dan bahasa, bendera lebih gamblang menyebutkan identitas suatu bangsa. Satu cara untuk menghormati identitas bangsa itu adalah dengan melaksanakan Upacara Bendera. Namun seiring berjalannya waktu, kini upacara bendera kebanyakan hanya dilakukan sebagai formallitas tanpa roh.

Paijo bersekolah di salah satu SMP Negeri di Kota Semarang. Dia duduk di kelas 2. Senin itu, seperti biasa ada kegiatan Upacara Bendera, hal yang selalu membuat Paijo dan teman-temannya malas. Berdiri 1 jam lamanya di lapangan tentu saja menjadi hal yang tidak disukai sebagian besar siswa, termasuk Paijo. Berbeda dengan upacara-upacara sebelumnya, hari itu dikelas Paijo kedatangan siswa baru, namanya Guntur. Berhubung hari senin, Guntur yang satu kelas dengan Paijo ikut berbaris dengan teman-teman barunya.

Upacara berlangsung seperti biasanya, matahari yang mulai menyengat berpacu dengan bisik-bisik hampir seluruh siswa yang mengikuti upacara hari itu. Tak beda dengan siswanya, beberapa guru juga ada yang mulai terlihat bosan mengikuti upacara dan diam-diam mengobrol dengan rekannya. Pemandangan itu menjadi hal yang biasa dilihat di hampir setiap upacara di sekolah tersebut.


Hanya beberapa siswa yang terlihat mengikuti upacara dengan khidmat, sedangkan yang lainnya hanya sibuk dengan urusan masing-masing dan berharap agar upacara bendera hari itu segera selesai. Beberapa siswa yang terlihat mengikuti upacara dengan serius tentu saja yang mendapat barisan depan. Satu lagi yang mengikuti upacara dengan serius adalah Guntur, siswa baru di kelas Paijo. Teman-teman barunya heran, ditambah dia tidak berbaris di deretan depan. "Ah, dia kan anak baru. Belum kenal siapa-siapa. Pantas saja dia cuma diam." Komentar salah satu siswa.

Paijo yang kebetulan berbaris disamping Guntur, mencoba mengajak Guntur untuk mengobrol. Tapi Guntur hanya memberikan sedikit respon. Perhatiannya hanya tertuju pada acara Upacara Bendera. Hal yang sudah jarang sekali ditemukan.

Upacara Bendera. Hampir semua orang pernah mengikuti kegiatan tersebut. Di sekolah, instansi-instansi pemerintah selalu mengadakan upacara bendera setiap hari senin. Selain sebagai upaya disiplin mental, kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat nasionalisme. Benarkah ?

Ah, kenyataan saat ini justru upacara bendera dianggap sebagai formalitas. Buktinya? Ada. Ketika penghormatan kepada Sang Saka Merah Putih, masih saja terlihat siswa yang memberikan penghormatan tapi tidak sesuai dengan sikap yang seharusnya ditunjukkan. Ada juga siswa yang berbicara. Bukan hanya pada saat-saat tertentu. Bahkan dari awal sampai akhir kebanyakan siswa hanya mengobrol. Masih kurang? Datanglah ke kegiatan upacara di sekolah-sekolah pada hari senin. Anda lihat sendiri bukti-buktinya.

Upacara Bendera sama halnya dengan ritual. Ditujukan untuk menghormati negara. Fakta saat ini menjadi indikasi menurunnya nasionalisme para pelajar. Pantas saja sering terjadi tawuran, dan pelanggaran-pelanggaran yang pelakunya adalah siswa. Salah satu penyebabnya adalah banyak siswa yang tidak bisa mengambil nilai sakral dari ritual kenegaraan yang kita sebut upacara bendera.

Lalu apalagi yang membuat Upacara Bendera semakin tidak menarik sehingga nilai sakralnya tidak dapat dirasakan oleh pesertanya?

  • Durasi yang lama;
  • Petugas Upacara sama / tidak bergiliran;
  • Kedua hal diatas dilakukan secara rutin.

Banyak siswa yang telah meremehkan buah kemerdekaan negara kita, Upacara Bendera. Padahal mereka tahu bahwa yang menjadi pupuk dari buah-buah kemerdekaan adalah darah leluhurnya yaitu para pejuang. Tapi sejauh ini mereka hanya mengetahui itu sebagai materi pelajaran. Tanpa mengambil nilai dari sejarah yang pernah mereka dengar. 

Jadi yang setiap hari senin diperingati dan dilakukan oleh setiap siswa sekolah terkesan terlalu murah. Dibandingkan dengan setiap perjuangan yang dilakukan leluhur kita demi merebut kemerdekaan dari para penjajah, Upacara Bendera adalah sarana termurah dan mudah untuk menebusnya. Meskipun mudah dan murah, para pemuda masih saja tidak mau membelinya dengan melaksanakannya dengan khidmat. Bagaimana cara kita untuk menghormati negara?

Comments

  1. Ya memang benar, pada saat upacara senin di sekolah masih ada siswa yang ngobrol dibarisan. Di sekolah tempat saya mengajar, petugas upacara digilir secara bergantian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mungkin untuk mengurangi kebosanan, yang menjadi petugas upacara harus bergantian.

      Delete
    2. sudah lama tidak bersua dengan upacara, alhamdulillah tadi brusan ngadain upacara pengukuhan kawan2 di kampus, dan ternyata beda paradigma yg tergambar setelah mengikutinya saat ini. Jujur memang upcra itu menghbiskan waktu dan sangat membosankan, tetapi ternyata upacara merupakan sarana pembentukan fikrah / pemikiran negarawan, atau nasionalisme. menumbuhkannya dan memupuknya. agar ke depan kita berfikir bukan untk kepentingan pribadi tetapi kepentingan bangsa dan negara. tetapi semua kembali ke bagaimana proses upcara itu dan tujuan dilakuknnya upacar tersebut.
      salam Kacang.. silahkan kunjungi blogskacang.blogspot.com

      Delete
    3. Kunjugan balik segera meluncur bang. terimakasih komentarnya

      Delete

Post a Comment

Popular Posts